Laman

Senin, 28 Desember 2009

Kisah "Avatar" dalam Kehidupan Nyata


Sudahkah anda menyaksikan film “Avatar”? Film garapan James Cameron yang berdurasi 161 menit dengan dana US$300juta. Sutradara yang juga 12 tahun ynag lalu sukses dengan Titanic-nya, kini membuat film bergenre fiksi ilmiah dengan Avatar-nya. Diceritakan tentang suatu planet bernama Pandora yang berjarak 5 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini mempunyai penduduk asli yang dinamakan Na’vi atau yang dijuluki monyet biru. Film yang berlatar belakang tahun 2154 ini mengisahkan bumi yang sudah kehabisan sumber daya alam, sehingga perusahaan multinasional menciptakan pertambangan di planet Pandora.
Sesungguhnya film ini kental juga dengan nuansa dramanya. Tetapi bukan kisah cinta Jake (Sam Worthington) dan Neytiri (Zoe Saidana) yang akan saya uraikan. Saya hanya ingin mengisahkan ulang film Avatar dalam konteks kehidupan nyata dengan sudut pandang segi kemanusiaannya. Film ini merupakan perang bangsa manusia Bumi dengan penduduk Na’vi. Kehidupan bangsa Na’vi yang memang penduduk asli disana semula hidup harmonis dengan alam. Tiba-tiba kehidupannya terancam karena kepentingan mahluk Bumi. Layaknya bangsa primitif, bangsa Na’vi mempercayai alam memang sesuatu yang hidup yang mereka puja dan pelihara. Manusia (mahluk asing bagi bangsa Na’vi) berkehendak merampas alam dengan merusaknya. Karena merasa mempunyai kepentingan dan kekuatan, yang merupakan mesin-mesin dan persenjataan modern, manusia merasa berhak melakukan apa yang dikehendakinya. Dengan seenaknya manusia menghancurkan pula pohon yang dianggap keramat dan sakral bagi mereka. Padahal alam merupakan tempat tinggal mereka bersama jiwa nenek moyangnya. Ketika menyaksikan ceritanya di bagian ini, saya merasakan manusia memang kejam dalam film tersebut.
Kemudian terlintas di benak saya mengenai Bumi kita sendiri. Jangan jauh-jauh membicarakan negeri orang, cobalah tengok ke negeri sendiri. Apa bedanya planet Pandora dengan Indonesia sebelumnya. Divisualisasikannya keindahan alam di Pandora, kemudian penduduk yang amat memujanya alam tersebut sehingga dianggap terdapat “ruh” di alam itu sendiri. Bukankah cerita tersebut seperti Indonesia pada zaman dahulu.
Pendapat saya, perang antara Manusia vs Na’vi dapat dicontohkan seperti Freeport vs Pribumi Papua. Bukankah kita semua tahu bagaimana eksploitasi yang dilakukan Freeport di bumi Papua? Penduduk pribumi yang sebenarnya orang yang menduduki wilayah tersebut secara turun menurun seakan-akan harus tersingkir di tanahnya sendiri. Alam yang sebenarnya merupakan milik mereka, tapi dirampas dengan semena-mena oleh bangsa lain. Bahkan dieksploitasi besar-besaran. Sebenarnya mengertikah kita tentang hakikat alam bagi mereka? Kaum pribumi (atau kita menyebutnya bangsa primitif) adalah penganut animisme yang masih menyembah kepada ruh nenek moyang yang terdapat yang berada dalam alam. Pohon dianggap sakral karena disanalah tempat mereka berkomunikasi terhadap “sang penguasa”. Mereka percaya ruh dan jiwa itu ada, alam itu bernyawa, memperlakukan tumbuhan dan hewan selayaknya bagian dari mereka. Itulah kepercayaannya, yang di anggap “Tuhan” bagi mereka. Tempat mereka hidup dan beribadat adalah alam. Dengan membabat habis hutan sama saja menginjak-injak Tuhan bagi mereka. Ternyata sakit hati itu bukan hanya sesuatu yang bersifat materi, tetapi juga yang tak terlihat. Bukan hanya makanan dan tempat tinggal mereka yang dirampas (itu saja sudah kejam), tetapi juga tempat peribadatan mereka, sesuatu yang mereka percaya sebagai kekuatan. Bagaimanakah jika kita diposisi mereka? Jika peribadatan kita dihancurkan? Jika kitab suci kita diinjak-injak? Walaupun itu memang sesuatu yang primitif tapi mereka lebih tahu caranya terima kasih terhadap apa yang sudah mereka jadikan tempat makan, bernafas,dan berkehidupan.
Kita juga masih mempunyai hutan yang terbentang dari sabang hingga marauke. Lautan yang terbentang yang diapit dua samudra besar di dunia. Jangan pula lupa bahwa kita punya alam dan juga MAHLUK YANG HIDUP DI DALAMNYA. Jangan sampai manusia “memakan” manusia atau manusia yang lupa akan caranya berterima-kasih. Cobalah manusia hidup dan bertindak sesuai akal sehat dan hati nurani (padahal Tuhan sudah ciptakan manusia dengan seperangkat akal sehatnya). Setidaknya marilah kita selamatkan terhadap apa yang masih bisa kita selamatkan. Akankah cerita ini bisa seperti film Avatar yang berakhir bahagia dengan sang jagoan yang akhirnya menang? (setelah banyak korban yang berjatuhan). Mari kita buat “skenario”nya dari sekarang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar